Qurban merupakan salah satu syiar Islam yang sarat akan nilai-nilai spiritual dan sosial. Tak hanya melibatkan anggota badan yang menyembelih, tetapi juga hati yang pasrah dan jiwa yang penuh harap. Ia bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan perayaan cinta dan ketundukan kepada Allah. Dengan meneladani ketabahan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, umat islam diajak untuk memperhatikan adab dan kerendahan hati pada Allah swt. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas juga menegaskan bahwa momentum Qurban adalah bentuk kesiapan lahir dan batin dalam menyambut ibadah besar. Tubuh kita diajak turut serta—diam, menahan, dan menanti dalam khidmat yang hening.
Seperti ibadah-ibadah mahdah lainnya, Qurban juga memiliki rukun dan sunnah-sunnah. Sebagai umat Nabi Muhammad saw. kita hendaknya tidak hanya memperhatikan rukun-rukun saja, namun juga sunnah-sunnahnya. Salah satu sunnah yang dianjurkan, sebagaimana disebut dalam Hadis Riwayat Muslim,“Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka janganlah seseorang memotong rambut dan kukunya yang ingin berqurban.”, Bagi orang yang hendak berqurban untuk tidak memotong rambut dan kukunya sejak 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih.
Sunnah lainnya adalah memilih hewan qurban yang sehat, tidak cacat, dan terbaik yang kita mampu. Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim). Penyembelihan hewan qurban juga dianjurkan dilakukan sendiri oleh orang yang berqurban jika ia mampu, atau setidaknya menyaksikan proses penyembelihannya. Nabi SAW sendiri menyembelih hewan qurbannya dan menyebut nama Allah serta bertakbir. Adab ini menumbuhkan tawakkal dan kedekatan spiritual dengan Allah SWT. Selain itu, menyebut nama orang yang berqurban ketika menyembelih hewan juga disunnahkan.
Terakhir, membagikan daging qurban kepada yang membutuhkan adalah sunnah yang tidak boleh dilupakan. Menurut Badan Amil Zakat Nasional, disarankan membagi daging qurban menjadi tiga: sepertiga untuk diri sendiri, sepertiga untuk hadiah kepada kerabat, dan sepertiga untuk yang membutuhkan. Karena pada akhirnya, qurban bukan hanya soal menyembelih hewan, tapi soal bagaimana kita belajar mengikhlaskan, dan memberi dengan cara yang paling tulus.





Hi, this is a comment.
To get started with moderating, editing, and deleting comments, please visit the Comments screen in the dashboard.
Commenter avatars come from Gravatar.